26.10.11

belajar dari tukang bajaj

malam ini gue pulang dari kantor naik bajaj., perjalanan pulang kantor yang sebenernya bisa gue tempuh dengan naik kendaraan umum yang bertarif 1/3 dari bajaj.
bukan tanpa alasan gue naik bajaj.
biasanya ada hal2 tertentu yang bikin gue memilih naik bajaj daripada naik kendaraan umum yang lebih murah.
antara lain seperti malam ini, yaitu lagi bawa belanjaan banyak. *biasa.,, nasib anak rumah tangga*

bajaj yang gue tumpangi kali ini agak lain dari biasanya.
bukan., dia bukan semacam bajaj super layaknya cerita sinetron.
tapi interior dan supirnya yang bikin dia ga biasa.

baru duduk di bajaj ini hidung gue mencium bau sesuatu *sekali lagi., ini bukan bajaj gaib..*
gue pikir belanjaan gue ada yang tumpah. ternyata pas gue liat sekeliling bajaj, sii supir bajaj menggantungkan pengharum ruangan yang nampak masih baru di atas sana.
terus sepanjang perjalanan selain bunyi khas bajaj, ada bunyi lain yang terdengar., yaitu semacam bunyi kalo sapi berjalan.
lagi2 bajaj ini memiliki keunikan., sii bapak supirnya juga menggantungkan semacam bandulan yang biasa dikalungkan di sapi di dekat pengharum ruangan tadi.
berharap melihat yang lainnya,. gue makin menjelajah sekeliling bajaj dengan mata gue.
di sebelah kanan depan ada semacam minatur kepala indian gitu. trus bagian kanan bajajnya yang biasanya dibiarkan bolong, ini ditutupi kaca plastik gitu. mungkin biar sii bapak supir yang memang sudah agak berumur itu tidak gampang masuk angin saat harus berkendara di malam hari.

puas dengan interior bajaj, kali ini gue mengamati sang supir bajaj yang sedang bekerja.
baru gue sadari bahwa sii bapak sangatlah rapih.
rambutnya nampak pendek dan rapih, kemeja batiknya juga rapi dan bagus dan tak lupa beliau memakai peci hitam dan jam tangan.

apa yang terpikirkan oleh gue adalah, nampak bapak ini sangat mencintai pekerjaannya.
ia berusaha sebaik mungkin bagaimana bajajnya atau dengan kata lain medianya dia untuk mencari nafkah menjadi senyaman mungkin, baik bagi dia maupun bagi penumpang  yang hanya berada 15-20 menit di bajajnya.
dibuatnya wangi bajaj itu dengan menggantungkan pengharum ruangan, dibuatnya bajaj itu seolah membawanya pada kenangan sapi dan sawah di kampungnya dengan menghadirkan bunyi klenengan sapi di sana, dan dipajangnya miniatur kepala indian di sebelah kanan depan agar ia selalu bisa melihatnya. entah apa makna kepala indian itu, mungkin pemberian dari seseorang yang ingin terus dia ingat kemananpun ia pergi.

akhirnya bajaj ini sampe di depan rumah gue.
saat gue menyerahkan ongkos, sii bapak bajaj minta lebih dari biasanya.
gue kekeuh bahwa tarif itu adalah tarif biasa.

sekali lagi gue belajar dari bapak bajaj ini.
selain mencintai pekerjaannya, sii bapak juga nampak tau sekali bagaimana menghargai dirinya sendiri.
sementara supir bajaj lainnya hanya bisa menghias bajaj mereka dengan atribut yang ramai dan kadang norak, mereka pun tak pernah protes kalo gue kasih ongkos 'biasanya'.

balik lagi ke kehidupan kita.
oke., kehidupan gue tepatnya.
mampukah gue mencintai pekerjaan gue tanpa berkeluh kesah seperti apa yang sering gue lakukan akhir2 ini.?
dan kalopun gue melaluinya tanpa berkeluh kesah, berapakah harga yang pantas untuk itu.?


--CePe--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

please do not be hesitate to speak up your mind

 
blog design by suckmylolly.com | Distributed by Deluxe Templates